Minggu, 31 Januari 2010

soerabadja

Di sudut sana mereka bertriak, tuhan mengapa kau tak adil.
Dari sudut lainnya mereka senantiasa malafadztkan kata sykur atas apa yang tuhan berikan untuknya.
Di pojok sana dengan nada sebagai kesantria ia tak jarang menyalahkan kata-kata saudaranya, bahkan mengkafirkanya.
Dari pojok lainya sebagian mereka hanya bisa bicara atau menuliskan penannya. ternyata kau hanyalah kuli tinta.
aku yakin teriakan dari sudut sana hanyalah simbol dari sebuah rasa lapar perutnya dan kebutuhan bagi keluaraga yang tak pernah dapat tercukupi. sementara dari sudut lainya mereka bersyukur atau sedang menyombongkan diri dengan apa yang ia miliki.ia masih terlihat duduk santai di atas kendaraan mewah.jangan hanya berucap bukan itu yang tuhan inginkan sobat.
ah , , , engkau masih seperti dulu padahal pemegang prioritas tertinggi hanyalah tuhan, terlalu nekat kau berucap seperti itu.bukankah mereka yang mengkafirkan seorang muslim tanpa dasar yang jelas sesungguhnya ia sendiri yang akan ter ibaratkan. tuhan ampunilah segala bentuk kesalahan hamba. atas segala ucapan,tulisan dan tingkah laku. dan senantiasa ridhoilah apa yang hamba jalankan di atas bumimu ini.